• Untitle

    Mengutarakan apa yang tak mampu terucap. Lewat pena ku tuturkan segala yang ingin ku ungkapkan.

  • Sudut Pandang

    Menyoroti sesuatu dari kacamata seorang awam. Bisa benar atau juga salah. Tidak perlu saling menghakimi, kita hanya perlu saling menasehati dan menghargai segala perbedaan.

  • Ceracau

    Menulis menjadi suatu hal yang baru. Sulit, namun terasa begitu menyenangkan. Membagi sesuatu yang kita rasakan atau kita pikirkan kepada oranglain. Berharap semua membawa kebermanfaatan.

  • Sajak

    Melatih rasa dan membahasakan sesuatu yang di rasa. Melankolis katanya. Namun itu dapat melunakkan hati yang keras, dan mempesona hati yang lembut.

Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Januari 2018

Petunjuk atau Ujian ??

'Jatuh Cinta itu bikin kita jadi pemaaf yah.
Petunjuk itu kadang ngasih tau sesuatu yang bener tapi kadang-kadang malah jadi ujian.
Yang aku suka ngga abis pikir adalah aku masih gak bisa bedain apa itu bener petunjuk atau itu ujian.'

Suatu pernyataan tegas dari salah satu teman akrab saya ini menggelitik saya untuk menulis tentang Cinta. Tapi tolong jangan meminta saya untuk menjabarkan definisi Cinta yaa. Karna sejatinya Cinta itu sulit untuk di definisikan, Cinta hanya dapat dirasakan.

Memang aneh, ketika kita menyukai seseorang rasanya apapun yang melekat padanya pasti selalu terlihat Baik. Tidak perduli seperti apa pendapat orang tentangnya, bagi kita dia adalah sosok yang sangat sempurna. Wajar saja jika orang bilang 'Cinta itu buta, tahi otok aja di kira coklat' haahaa. Kurang lebih begitu pepatahnya. Tapi nyatanya pepatah itu benar kan ? Semua yang di mabuk Cinta yaa akan merasakan seperti itu. Dia hanya peduli dengan pendapatnya sendiri tentang pasangannya. Mau pasangannya berbuat salah tetap saja dibela. Bahkan yang ekstrim juga ada, sudah disakitin baik mental maupun fisik tetap saja bilangnya 'Aku cinta dia apa adanya'. Duh ini mah butanya keterlaluan yaa, haahaa. Ini membuktikan pernyataan teman saya yang pertama itu benar adanya, bahwa 'Jatuh cinta itu bikin Kita jadi pemaaf'. Tapi kira-kira apa baik Cinta sampai sebuta itu ? Yaa jawabannya tentu tidak lah. Selain perasaan, dalam Cinta kita juga perlu libatkan logika. Memangnya tidak lelah terus di perlakukan dengan tidak baik dan tidak seharusnya ? Soo, be realistic guys.

Perihal petunjuk. Saya pernah baca bahwa petunjuk itu bisa di dapat lewat mimpi, keyakinan hati, atau pendapat kebanyakan orang terdekat kita. Petunjuk bisa datang dari Allah atau juga dari nafsu diri Kita sendiri. Dari Allah tentu lah ia Akan menghasilkan suatu kebaikan bagi kita, sedangkan petunjuk yang datangnya dari hawa nafsu Kita sendiri pastinya akan membawa keburukan karna sejatinya itu adalah petunjuk dari setan. Iiiii sereeeemmmm.

Bagaimana caranya kita membedakan antara petunjuk itu datang dari Allah atau dari setan ? Jawaban simplenya adalah begini, ketika keragu-raguan masuk ke dalam pikiran kita dan Kita lebih banyak berpikir akan mendapat keburukan dari petunjuk tersebut, maka petunjuk itu pastilah datangnya dari setan, sedangkan ketika hati kita yakin akan sesuatu, dan semua jalan menuju petunjuk itu mudah, maka insyaallah itu adalah petunjuk dari Allah. Kita perlu berpikir lebih dalam dan tenang, tidak perlu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, tapi jangan pula menunda-nunda. Ujiannya adalah ketika kita mampu bersabar dan mengontrol diri dari apa yang kita inginkan.

Semua mungkin membingungkan, tapi ketika Kita coba resapi dan lebih mendekat pada Allah, maka tidak lah ada yang perlu Kita bingungkan ataupun kita risaukan. Karna nyatanya Allah akan memberikan petunjuknya dengan penuh kasih sayang. Kita hanya perlu mengerti, bahwa rasa Cinta yang Allah punya dan Allah berikan itu berbeda, baik rasanya, caranya ataupun bentuknya.

Share:

Minggu, 31 Desember 2017

Mengenal Minang dan Adat Istiadatnya (Pernikahan Part.1)

Sebelum membahas mengenai adat istiadat minang, ada sesuatu  yang ingin saya tanyakan. Pernah membaca novel berjudul 'Salah Asuhan' karya Abdul Moeis ? Atau pernah nonton filmnya yang tayang di sekitar tahun 1972 ? Kalau jawabannya belum, sekarang mungkin kita bisa menikmatinya lewat layar televisi, karna sudah ada versi sinetronnya.

Sinetron ini di adaptasi dari novel karya Abdul Moeis dengan judul yang sama. Kalau sudah pernah baca novelnya, pasti akan menemukan sedikit perbedaan. Mungkin hal itu dilakukan demi tuntutan cerita. Yang sangat terasa adalah perbedaan latar waktu dan sedikit jalan cerita. Karna novel karya Abdul Moeis ini ditulis dengan latar masa penjajahan belanda, sedangkan sutradara sinetron inj menyesuaikan dengan latar cerita zaman sekarang.

Dalam sinetron 'Salah Asuhan' ini menerangkan, bahwa orang minang kebanyakan sangat memegang teguh adat istiadat mereka.

Di ceritakan Hanafi seorang pemuda asli minang, menyukai Qori seorang pemudi Indo. Ibu Qori adalah orang minang, sedangkan ayahnya adalah laki-laki asal Prancis. Traumatik yang di rasakan oleh ayah Qori karna di sisihkan dan di kucilkan oleh keluarga besar ibu Qori menyebabkan ayah Qori tidak merestui hubungan anaknya dengan Hanafi. Ia takut anaknya akan merasakan hal yang sama dengannya jika menikah dengan orang minang.

Mungkin alasannya bukan hanya sekedar traumatik, tapi juga karna adat istiadat yang berlaku di ranah minang mengenai kesukuan dalam pernikahan.

Berangkat dari rasa penasaran terhadap adat istiadat minang yang di sajikan dalam sinetron itu, saya mencoba mencari tau dengan melakukan riset kecil-kecilan tentang adat istiadat yang berlaku di ranah minang dalam urusan pernikahan.

Dengan mengandalkan bantuan dari beberapa teman asli orang minang yang tinggal dan besar di ranah minang, saya akan coba menjabarkannya di tulisan kali ini.

Adat istiadat minang mengenai kesukuan dalam pernikahan. 

Bagi orang minang urusan pernikahan memerlukan pertimbangan mengenai suku apa yang dimiliki oleh calon pasangan. Karna di ranah minang tidak di perbolehkan menikahi orang sesuku. Tabuh rasanya jika ada calon pasangan pengantin memiliki suku yang sama dan Datuak (kepala suku/penghulu) yang sama itu menikah. Dalam adat minang, kesamaan suku memiliki arti bahwa mereka adalah saudara karna berasal dari nenek moyang yang sama.

Kesamaan suku yang dimaksud disini bukanlah orang minang menikah dengan orang minang layaknya kita melihat orang jawa menikah dengan orang jawa, namun suku yang dimaksud adalah suku-suku kecil yang terdapat di tanah minang, seperti Piliang, Guci, Salayan, dan lainnya. 

Contoh pernikahan yang tidak diperbolehkan adalah orang minang yang bersuku Piliang menikah dengan orang minang yang bersuku Piliang juga. Suku Piliang inilah yang dimaksud dengan 'Kesamaan Suku' di tanah minang. Pernikahan ini bisa saja hukumnya menjadi boleh, dengan syarat orang yang memiliki suku sama ini merujuk pada Datuak (Kepala Suku/Penghulu) yang berbeda.

Berbicara tentang suku, ada yang mengatakan bahwa di minang terdapat 4 suku besar, yaitu Koto, Piliang, Bodi, dan Chaniago. Suku-suku besar tersebut terpecah menjadi suku kecil, diantaranya adalah Guci, Sikumbang, Sipisang, Simabur, Salayan, Pebada, dan lain-lain. Suku-suku inilah yang akan menjadi pertimbangan dalam melakukan pernikahan.

Jika kita tilik dari sisi agama, sebenarnya sah-sah saja pernikahan sesuku itu terjadi, asal bukan muhrim. Namun sebagian masyarakat minang akan mengganggapnya sedikit berbeda. Meskipun kita tau, notabene mayoritas masyarakat di minang adalah muslim yang taat, tapi adat di sana juga cukup kental, begitu pun individu nya dalam memegang adat istiadat.

Ada hukum adat yang berlaku di sana bagi para pelaku pernikahan sesuku ini. Mereka yang menikah dengan orang sesuku, maka akan menerima sanksi dari lingkungan mereka. Mereka akan di kucilkan, bahkan ada pula yang sampai terusir dari kampung mereka.

Sebenernya ada beberapa macam hukum adat yang berlaku bagi pernikahan sesuku ini. Yang pernah saya baca ada 5 macam dengan sanksi yang berbeda-beda. (Akan saya jelaskan dalam tulisan berikutnya).

Kekentalan adat istiadat di ranah minang inilah yang menyebabkan sebagian orang minang memutuskan bahwa dirinya harus menikah dengan orang yang berbeda suku. Tentu ini bukan menjadi hal dasar, karna ada juga yang berpikir untuk menghindari fitnah atau pandangan buruk dari masyarakat jika menikah dengan orang sesuku. Ada pula yang beralasan demi menjaga hubungan kekerabatan dalam suku tersebut. Adat yang berlaku dalam tanah minang ini akan menjadi salah satu alasan mereka dalam menentukan pasangan.

Di minang sendiri jarang sekali ditemukan kasus pernikahan sesuku ini. Mungkin karna masyarakat minang sudah tau betul konsekuensi apa yang akan di dapat dari pernikahan sesuku tersebut. 

Tulisan ini tentu belum lah cukup merangkum betapa uniknya budaya minang ini. Masih banyak adat minang mengenai pernikahan yang akan saya bahas. Tapi mungkin akan saya lanjutkan pada tulisan berikutnya.

Saya terbuka pada siapapun yang ingin mengemukakan pendapatnya tentang tulisan ini, atau bahkan memberi saran agar tulisan saya ini dapat saya perbaiki.

Keterbatasan ilmu yang saya miliki tentu membuat tulisan ini mungkin tidak sempurna, apalagi bagi pembaca yang memang asli orang minang. Dan hanya bermodalkan narasumber yang notabene bukan lah seorang Datuak. Tapi tulisan ini adalah sebuah ketertarikan saya terhadap keunikan budaya minang. Anggap saja ini adalah Salam kekaguman dari gadis Sunda terhadap masyarakat dan budaya Minang.

Terimakasih saya ucapkan kepada para narasumber yang sudi meluangkan waktunya untuk saya wawancarai tentang adat istiadat pernikahan minang hingga tulisan ini dapat saya posting.
Share:

Resolusi Tahun 2018

Resolusi Tahun  2018 sebenernya tidak begitu berbeda dengan tahun 2017, hanya saja kali ini ada fokus yang berbeda. Kefokusan di tahun lalu berada di nomor paling buncit, sedangkan kefokusan  tahun ini adalah kedekatan dengan Allah. Bismillah, maka inilah resolusiku tahun ini :

1. Shalat wajib ontime plus rawatib
2. Shalat tahajud dan dhuha rutin 
3. Hafalan juz nambah
4. Surat Ar-Rahman hafal
5. Tilawahnya konsisten
6. Ikut kajian dan tahsin
7. Umroh
8. Buku bacaan tiap bulan nambah plus yang dibaca juga nyantol ilmunya
9. Ngeblog rutin 5 tulisan minimal perbulan
10. Aikido dan panahan tetep jalan
11. Nabung buat sekolah ade dan nikah
12. Training database (MySQL, Oracle, postgree SQL, dll)
13. Travelling ke Sumatera Barat bulan maret atau april
14. Nulis buku
15. Nikah bulan april
16.
17.
18.
19. 
20.

Ada nomor-nomor yang masih Kosong. Niatnya akan di isi saat sudah bertemu dengan orang pilihan Allah yang disebut 'Jodoh' heehee..
Share:

Senin, 25 Desember 2017

Aktifis Jatuh Cinta, Salah Gituh ??

Aktifis jatuh Cinta ? So what ?

Aktifis juga manusia keles, yang namanya Cinta itu Kan fitrah, suka suka Allah mau ngasih ke siapa, ngga terkecuali pada aktifis Kan ?

So, buat kalian yang punya pikiran sempit, yang suka menyudutkan aktifis yang suka sama lawan jenis, mending istighfar Aja gih haahaa..

Nih yaa eyke Kasih Tau, Sekelas Ali bin Abu thalib aja jatuh Cinta koq sama fatimah, terus ulama besar macem Sayyid Qutub juga pernah jatuh Cinta. Udah pada Tau ceritanya atau belum ?

Kita mah apa atuh di bandingin mereka. Tapi lihat, Allah juga mengirimkan Cinta itu pada hati hati mereka bukan ? Lalu apa salah si aktifis jika dia juga merasakan Hal yang sama ? Kan sama sama di kasih dari Allah.

Saya bukan membenarkan atau menyalahkan si aktifis atau si pemberi pandangan negatif yaa. Tapi sempit sekali rasanya jika Kita menghakimi pelakunya, sedangkan mungkin yang salah Adalah Cara mereka menyikapinya.

Jika mereka larut dalam kecintaan mereka dan kemudian melakukan hal-hal di luar norma kebaikan, maka salahkan perilakunya. Jangan pelakunya. Toh manusiawi koq jika seorang aktifis itu melakukan kesalahan. Rasulullah saja pernah melakukan kesalahan, Tapi Allah lah yang menjadi pengingat nya, menegur Rasulullah secara langsung lewat firman-firman-Nya.

Sudah sepatutnya mereka yang lebih paham menasehati, menggiring lagi langkah mereka yang salah. Toh tugas manusia Adalah untuk saling menasehati kan, bukan saling menyalahkan.

Yuk mulai sekarang kita budayakan saling nasehat-menasehati. Saling memperbaiki Dan mengingatkan satu sama lain 😁
Share:

Label Pena

Pena Terpopuler

Kawan Pena

Labels